Kamis, 11 Agustus 2011

PUISI Q

Zaman Tak Bernurani

            Oleh: Rinawati

Tangan-tangan kecil kumal menengadah
Bibir-bibir pucat bersenandung kelu
Mata-mata memelas penuh harap
Mengharapkan recehan demi recehan rupiah

            Disaat anak-anak duduk manis
            Menuntut ilmu berseragam rapi
            Kau malah bergumul
            Dengan debu dan asap knalpot
            Panas terik nan menyengat
            Bertemankan pakaian kumal tambalanmu

Tubuh-tubuh ringkih
Kaki-kaki pucat tak beralas
Bersenjatakan keranjang dan gancu
Mengais-nagais tumpukan harta
Tapi bukan emas, sayang

            Gunung-gunung sampah
Bak gunung harta di matamu
Kau kais dengan gancumu
Kau tumpuk dikeranjangmu
Demi recehan dan recehan rupiah

Miris, memang miris
Tapi inilah poteret zaman tak bernurani
Pemulung-pemulung dan pengamen
Bertubuh ringkih, bergulat
Berjuang hidup, dikaki sendiri

            Tak sering tubuh-tubuh ringkih itu
            Menerima cerca,menanggung cemooh, wasangka
            Orang-orang tak bernurani

Miris, memang miris
Di tanah subur nan kaya ini
Mereka hidup dan menjejakkan kaki
Di negeri yang terkenal makmur ini
Mereka berjuang
Demi recehan-recehan rupiah

            Oh….
            Ironis memang potretpenerus bangsaku kini
            Pemulung, pengamen tak berilmu
            Wahai saudara-saudaraku
            Handai taulan
            Dimanakah gerangan nuranimu?
            Tidakkah kau dengar jeritan
            demi jeritan nestapa saudaramu?
            Saudaramu yang terimpit dan terjepit
            di zaman tak benurani



Tidak ada komentar:

Posting Komentar