Zaman Tak Bernurani
Oleh: Rinawati
Tangan-tangan kecil kumal menengadah
Bibir-bibir pucat bersenandung kelu
Mata-mata memelas penuh harap
Mengharapkan recehan demi recehan rupiah
Disaat anak-anak duduk manis
Menuntut ilmu berseragam rapi
Kau malah bergumul
Dengan debu dan asap knalpot
Panas terik nan menyengat
Bertemankan pakaian kumal tambalanmu
Tubuh-tubuh ringkih
Kaki-kaki pucat tak beralas
Bersenjatakan keranjang dan gancu
Mengais-nagais tumpukan harta
Tapi bukan emas, sayang
Gunung-gunung sampah
Bak gunung harta di matamu
Kau kais dengan gancumu
Kau tumpuk dikeranjangmu
Demi recehan dan recehan rupiah
Miris, memang miris
Tapi inilah poteret zaman tak bernurani
Pemulung-pemulung dan pengamen
Bertubuh ringkih, bergulat
Berjuang hidup, dikaki sendiri
Tak sering tubuh-tubuh ringkih itu
Menerima cerca,menanggung cemooh, wasangka
Orang-orang tak bernurani
Miris, memang miris
Di tanah subur nan kaya ini
Mereka hidup dan menjejakkan kaki
Di negeri yang terkenal makmur ini
Mereka berjuang
Demi recehan-recehan rupiah
Oh….
Ironis memang potretpenerus bangsaku kini
Pemulung, pengamen tak berilmu
Wahai saudara-saudaraku
Handai taulan
Dimanakah gerangan nuranimu?
Tidakkah kau dengar jeritan
demi jeritan nestapa saudaramu?
Saudaramu yang terimpit dan terjepit
di zaman tak benurani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar