PERSATUAN BUMI
Oleh: Rinawati
Dewasa ini manusia di seluruh
penjuru dunia mengalami zaman globalisasi yang di tandai dengan berkembangnya
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau biasa disingkat IPTEK. Arus globalisasi
membuang sekat yang selama berabad-abad yang lalu berdiri kokoh antara satu
bangsa dengan bangsa yang lain. Saat ini kita bisa berhubungan, berbagi
informasi, dan belajar tentang berbagai budaya dalam waktu yang bersamaan
dimana pun kita berada melalui jaringan internet dan telepon. Jejaring sosial
pun seperti facebook, twitter, google+, dan lain-lain, juga memberikan
kontribusi terhadap integrasi sosial yang meluas di masyarakat bumi. Semua
bangsa berusaha mengikuti integrasi global yang terjadi karena ini merupakan
kebutuhan jika tidak ingin tertinggal dari bangsa lain dan secara tidak
langsung ini merupakan persatuan bumi yang tidak tertulis, karena bangsa – bangsa
di dunia bersama – sama mencapai tujuan yang sama yakni itegrasi global.
Integrasi global seharusnya di
jadikan sebagai wahana untuk saling bertoleransi antar sesama umat manusia,
melupakan ras, suku, etnik atau apapun perbedaan yang ada dan mengedepankan
pemahaman bahwa manusia adalah satu. Namun kenyataannya, masih saja kita
menemukan bahwa di abad yang mengedepankan globalisasi ini penyakit rasisme
masih saja menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, termasuk di Indonesia. Contohnya di Yogyakarta yang merupakan kota pendidikan,
kita banyak menjumpai kos – kosan atau tempat penyewaan rumah yang hanya
menerima penyewa yang beragama A, B atau C, atau hanya menerima penyewa dari
etnik tertentu, dan suku tertentu. Atau beberapa tragedi yang terjadi beberapa
waktu silam seperti “Tragedi Poso” , yang di latar belakangi prasangka
keagamaan dan etnik, juga tragedi – tragedi lain yang terjadi di berbagai
daerah di Indonesia yang banyak terjadi dari waktu ke waktu. Sebuah realitas
yang memiriskan dan tidak dapat dimengerti mengingat bangsa ini memiliki banyak keanekaragaman suku, ras,
agama, etnik dan budaya. Kesenjangan sosial ini jika terus barlarut – larut
akan melemahkan sendi toleransi dan melunturkan semboyan bangsa kita “ Bhineka Tunggal Ika” serta menjadikan
negara kita tertinggal dari negara lain. Saat bangsa lain mulai menuju
persatuan bumi kita masih saja berkecamuk dengan bangsa kita sendiri, dimana
dikotomi atau pengotak – ngotakan masih terjadi.
Padahal jika kita mengamati sebuah
taman yang penuh dengan bunga yang berwarna – warni dengan jenis yang berbeda –
beda akan tampak lebih indah, jika dibandingkan dengan taman yang hanya
memiliki satu warna dan satu jenis tanaman, pasti akan sangat membosankan.
Jadi, jika kita sadar bahwa perbedaan
menjadikan hidup ini berwarna, maka hanya dengan persatuanlah kita bisa
mengobati semua penyakit yang ada di bumi saat ini. Dengan cara bertoleransi,
berprinsip bahwa manusia adalah satu, dari zat yang sama, maka kedepannya tidak
akan ada lagi perselisihan, prasangka, bahkan perang yang di latarbelakangi
oleh perbedaan agama, ras, suku, etnik atau apapun perbedaan yang ada. Dan
menjadikan bangsa ini siap untuk mencapai integrasi global menuju persatuan
bumi bersama bangsa lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar