Jumat, 21 September 2012

Artikel_Artikel


PERSATUAN BUMI
Oleh: Rinawati

            Dewasa ini manusia di seluruh penjuru dunia mengalami zaman globalisasi yang di tandai dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau biasa disingkat IPTEK. Arus globalisasi membuang sekat yang selama berabad-abad yang lalu berdiri kokoh antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Saat ini kita bisa berhubungan, berbagi informasi, dan belajar tentang berbagai budaya dalam waktu yang bersamaan dimana pun kita berada melalui jaringan internet dan telepon. Jejaring sosial pun seperti facebook, twitter, google+, dan lain-lain, juga memberikan kontribusi terhadap integrasi sosial yang meluas di masyarakat bumi. Semua bangsa berusaha mengikuti integrasi global yang terjadi karena ini merupakan kebutuhan jika tidak ingin tertinggal dari bangsa lain dan secara tidak langsung ini merupakan persatuan bumi yang tidak tertulis, karena bangsa – bangsa di dunia bersama – sama mencapai tujuan yang sama yakni itegrasi global.
            Integrasi global seharusnya di jadikan sebagai wahana untuk saling bertoleransi antar sesama umat manusia, melupakan ras, suku, etnik atau apapun perbedaan yang ada dan mengedepankan pemahaman bahwa manusia adalah satu. Namun kenyataannya, masih saja kita menemukan bahwa di abad yang mengedepankan globalisasi ini penyakit rasisme masih saja menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, termasuk di Indonesia. Contohnya  di Yogyakarta yang merupakan kota pendidikan, kita banyak menjumpai kos – kosan atau tempat penyewaan rumah yang hanya menerima penyewa yang beragama A, B atau C, atau hanya menerima penyewa dari etnik tertentu, dan suku tertentu. Atau beberapa tragedi yang terjadi beberapa waktu silam seperti “Tragedi Poso” , yang di latar belakangi prasangka keagamaan dan etnik, juga tragedi – tragedi lain yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang banyak terjadi dari waktu ke waktu. Sebuah realitas yang memiriskan dan tidak dapat dimengerti mengingat bangsa  ini memiliki banyak keanekaragaman suku, ras, agama, etnik dan budaya. Kesenjangan sosial ini jika terus barlarut – larut akan melemahkan sendi toleransi dan melunturkan semboyan bangsa kita “ Bhineka Tunggal Ika” serta menjadikan negara kita tertinggal dari negara lain. Saat bangsa lain mulai menuju persatuan bumi kita masih saja berkecamuk dengan bangsa kita sendiri, dimana dikotomi atau pengotak – ngotakan masih terjadi.
            Padahal jika kita mengamati sebuah taman yang penuh dengan bunga yang berwarna – warni dengan jenis yang berbeda – beda akan tampak lebih indah, jika dibandingkan dengan taman yang hanya memiliki satu warna dan satu jenis tanaman, pasti akan sangat membosankan. Jadi, jika kita sadar bahwa perbedaan  menjadikan hidup ini berwarna, maka hanya dengan persatuanlah kita bisa mengobati semua penyakit yang ada di bumi saat ini. Dengan cara bertoleransi, berprinsip bahwa manusia adalah satu, dari zat yang sama, maka kedepannya tidak akan ada lagi perselisihan, prasangka, bahkan perang yang di latarbelakangi oleh perbedaan agama, ras, suku, etnik atau apapun perbedaan yang ada. Dan menjadikan bangsa ini siap untuk mencapai integrasi global menuju persatuan bumi bersama bangsa lain.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar